Kamis, 01 Oktober 2009

# Bunga 10 Juli #

Dari mana aku harus memulai?..aku tak tahu.
Kemana aku harus melangkah?..akupun ragu.Mendengar kenyataan ini,sebelah kananku berkata : Yas,engkau suka,,
Sedangkan sebelah kiriku berteriak dengan lantangnya mengatakan : Yas...engkau duka!!
Akupun tak tahu darimana dia datang? sebab mendengar langkahnya pun aku tak pernah.Tiba-tiba saja dia hadir ditamanku,taman yang cukup lama tak kutanami dengan bunga.
Bunga yang tiba-tiba hadir itu sangat mempesonakan,bunga itu harum menyegarkan.Dengan aroma kesegarannya bunga itu bahkan mampu membangkitkan kembali kepercayaan diriku ini.Agar aku mudah tuk mengingatnya kujuluki bunga itu "Bunga 10 Juli"...........
Hari berlalu "10 Juli" semakin terlihat elok dan akupun mengira 10 Juli singgah dihati,yang sebenarnya 10 Juli tak pernah singgah dihati.
Mungkin karna sekian lama kosongnya taman ini tlah menstimulasi kebodohanku sehingga aku berfikir dan merasa sedemikian rupa,padahal aku tahu dan suara hatiku berbisik : Yas,,,hati-hati terhadap semua hal semu.Namun sayangnya,alih alih memperdulikan suara hati,aku lebih meng-iya-kan "keinginan"ku.
Sekarang...inilah yang terjadi,"10 Juli" tak mungkin dapat kupetik,toh menanamnya pun aku tak pernah,,,,,
10 Juli hadir ditamanku karna ia memang bukan hanya harum menyegarkan,bahkan ia adalah species bunga herbal yang hanya siap menawarkan kesembuhan.Namun apabila yang mengkonsumsinya melebihi dosis...jangan salahkan Bunga herbal tersebut!!..
Aaakh 10 Juli......mungkin kau takkan pernah percaya bahwa aku pernah ingin memetikmu,karna kita semua tahu bahwa angin yang menerbangkan serbukmu hingga sampai ke tamanku ini hanyalah angin semu,namun aku sempat terbius oleh angin semu ini,bukan olehmu,,aku tegaskan bukan olehmu!!
Terima kasih untukmu Bunga 10 Juli,,aku sangat membanggakanmu,meski hanya gambarmu yang dapat kubingkai tuk menghiasi ruang hampaku.

(Senin 10 Agustus 2009)

Reaksi Tanpa Berfikir

Jumlah kendaraan bermotor di Indonesia, khususnya di kota-kota besar seperti di Jakarta, semakin menambah kemacetan yang telah menjadi pemandangan sehari-hari. Pagi tadi saya menyaksikan sendiri, yang dengan kemacetan tersebut dapat mempengaruhi kejiwaan ataupun emosi seseorang, terlebih pada pengguna jalan raya tersebut. Saya saksikan sendiri bagaimana orang yang bilamana dirumah atau lingkungannya, terlihat santun, baik, alim. Namun tidaklah demikian bila si orang tersebut ke jalanan,ataupun orang tersebut bisa mendadak "berubah" menjadi beringas setelah pantatnya berada diatas jok....
Tanpa terkecuali si orang tersebut seorang guru ngaji, seorang teladan (yang sejatinya gak patut diteladani), pegawai kantoran, ataupun para eksekutif. Seorang teman dekat pernah mengatakan “Intelektualitas ternyata bukanlah jaminan bahwa seseorang mempunyai manners yang baik!”

Bicara tentang sesuatu yang sedang terjadi, yaitu dengan adanya klaim-klaim Malaysia akan kebudayaan asli Indonesia, kembali masyarakat kita sangat mudah terpancing reaksinya. Kita dapat melihat di forum, blog, facebook, ataupun media lainnya, seperti apa dan dengan gaya apa orang mencaci atau memaki,,,, mereka berdalih,berdasarkan rasa Nasionalisme.
Saya pikir alangkah lebih baik dan bijak jika semua itu kita sikapi atau kita lawan dengan hal-hal yang yang lebih berdampak atau betul-betul kita buat malu si negara yang telah mengklaim kebudayaan bangsa lain dengan seenaknya tersebut.
Seorang rekan bilang, negara itu The Truly Maling Asia……., tapi saya lebih suka menyebutnya Negara Pemulung. Pemulung seringkali lebih dapat memanfaatkan barang yang Nampak sudah tidak digunakan lagi oleh si empunya. Tidaklah berlebihan bila mereka memulung budaya-budaya yang berasal dari Negeri kita yang notabene bangsa dan masyarakat kita sendiri pun cenderung lebih bangga dengan yang berbau luar negeri.
Remaja-remaja kita banyak yang tidak mau lagi belajar Tari Pendet,Reog Ponorogo, memainkan Calung, ataupun jenis tari/musik daerah yang lainnya. Mereka lebih suka joget-joget di Pub atau Diskotik yang pergaulannya begitu bebas.
Kebudayaan adalah Budaya, budaya itu mestinya dilestarikan, bukan sekedar dipajang!!.
Jika kita mau kreatif, ada banyak cara dalam melestarikan budaya. Bagi yang remaja dan senang musik, kita bisa meng-aransemen ulang lagu-lagu daerah ataupun musik-musik daerah dengan alat musik berteknologi sekarang..

Seorang musisi yang tidak asing lagi,I Wayan Balawan, ia tidak hanya dikenal di negeri sendiri, ia telah keliling Eropa dengan “Batuan Ethnic Fusion” nya, memperkenalkan musik daerah atau budaya bangsa dengan caranya yang cukup unik dan kreatif,, hebat bukan? Bahkan ketika saya menyaksikan pertunjukannya, ia mengatakan bahwa setiap kali ia naik pentas, ia selalu memakai gitar produk lokal yakni made in Sidoarjo.Ia sungguh bangga dengan bangsanya….. Bagaimana dengan kita? masihkah kita menunjukkan Nasionalisme kita dengan cara-cara emosional? kemarahan yang mudah dan gampang tersulut?
Mestinya kita bercermin, setelah beberapa kebudayaan asli bangsa Indonesia di klaim Malaysia.kita harus sadar, betapa kita telah melalaikan kebudayaan kita yang sungguh tak ternilai ini. Negara peng-klaim lebih jeli dalam membaca peluang, sementara kita selalu menjadi pengekor…
Masih mau mengajak perang dengan Malaysia????
Wah….wah …wah…. ,jelas itu bukanlah solusi.!!!!